SUARAMELAYU.CO.ID, PANGKALPINANG — Harga timah dunia terus merangkak naik. Namun ironisnya, para penambang di Bangka Belitung (Babel) justru masih mengeluh soal harga beli yang dinilai belum berpihak kepada mereka. Minggu, (1/3/2026)
Bahkan dalam pantauan Redaksi BABELTrendy.com di laman LME Tin pada Minggu, 1 Maret 2026 pukul 22.30 WIB, harga timah dunia kini tembus 57.728 US Dollar.
Situasi ini membuat DPRD Babel angkat suara. Lewat suara lantang Ketua DPRD Babel, Didit Srigusjaya secara tegas mendesak PT Timah Tbk segera mengambil kebijakan lokal demi menyelamatkan ekonomi penambang.
“Sekarang harga timah dunia sudah naik lagi, tapi harga di tingkat masyarakat, khususnya penambang di IUP PT Timah, masih kurang memuaskan,” tegas Didit.
Pertemuan antara DPRD dan manajemen PT Timah yang awalnya dijadwalkan pekan ini, kata Didit, terpaksa molor. Hal itu dikarenakan seluruh jajaran direksi perusahaan pelat merah itu diketahui sedang berada di Jakarta untuk memenuhi panggilan induk holding pertambangan, MIND ID.
Didit mengungkapkan, jadwal pertemuan akhirnya diundur hingga Senin mendatang. DPRD berharap, rapat tersebut tidak sekadar formalitas, melainkan menghasilkan solusi konkret bagi penambang lokal.
Menurut Didit, PT Timah tidak bisa hanya menunggu regulasi harga dari pemerintah pusat. Ketua DPD PDI Perjuangan Babel ini mendorong perusahaan segera mengambil diskresi, atau kebijakan lokal sementara agar harga beli di tingkat penambang bisa lebih manusiawi.
“Yang menentukan harga kan tetap mereka. Ini baru rencana pusat soal harga terendah. Sebelum keluar, harus ada kebijakan yang bisa membantu masyarakat,” ujarnya lantang.
Desakan ini muncul di tengah keresahan penambang yang beroperasi di wilayah Izin Usaha Pertambangan (IUP) PT Timah. Mereka menunggu langkah nyata, bukan sekadar janji.
Bahkan telah dijadwalkan oleh DPRD Babel, rapat bersama Direksi PT Timah akan digelar pada Senin pekan ini, 2 Maret 2026. “Mudah-mudahan Senin ini beliau bisa datang ke DPRD untuk membahas bagaimana solusinya,” pungkas Didit.*** (Jendela grup)

jb
jb
jb
jb









